Bahasa Indonesia

Solar Cell dalam Mendukung Green Energy di Aceh

Banda Aceh, Selasa (27 Februari 2018).   Energi listrik merupakan salah kebutuhan masyarakat modern yang sangat penting dan vital. Ketiadaan energi listrik akan sangat mengganggu keberlangsungan aktivitas manusia. Oleh karena itu kesinambungan dan ketersediaan energi listrik perlu dipertahankan. Bagi masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan dan sekitarnya, energi listrik tidaklah menjadi masalah. Karena energi listrik yang disediakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah tersedia di kawasan tersebut. Namun bagi masyarakat yang tinggal di daerah-daerah pedalaman dan pulau-pulau terpencil, energi listrik merupakan suatu masalah besar. Karena jaringan listrik PLN belum menjangkau pada daerah tersebut. Salah satu solusi yang bisa mengatasi ketiadaan energi listrik didaerah terpencil tersebut adalah dengan mengubah cahaya matahari yang melimpah menjadi energi listrik menggunakan teknologi photovoltaic atau disebut juga dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Hal inilah  yang ditawarkan oleh PT. SMS NU Energy untuk mengatasi kekurangan energi listrik didaerah-daerah terpencil yang ada di Aceh, kemarin yang bertempat di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Aceh. PT. SMS NU Energy adalah perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum perusahaan indonesia. Nu Energy saat ini berfokus untuk mempromosikan bisnis energi terbarukan. Mereka mengatakan memiliki pengalaman dan keahlian untuk melakukan layanan konsultasi, desain awal, kepatuhan peraturan, negosiasi PPA / Fit, kontrak EPC, struktur pembiayaan, operasi dan pemeliharaan. Perusahaan ini telah berdiri selama 5 tahun dan telah sukses dilakukan dibeberapa daerah di Indonesia.

Amran Muhammad Direksi PT. SMS Nu Energy meminta kepada PLN untuk memberitahukan dimana saja daerah-daerah yang masih menjadi kendala bagi PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik di Aceh. Peserta rapat yang mewakili dari PLN menginformasikan ada 2 metode jual beli tenaga listrik oleh pihak swasta yang pertama yaitu sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2017 yaitu dimana untuk PLTS dibatasi dengan kouta lelang kapasitas, untuk Aceh koutanya ada 20 MW dan sudah dilelang PLN Pusat dan dari lokasi-lokasinya sedang dalam proses lelang.

Kemudian metode yang kedua adalah merujuk pada peraturan direksi yang terbaru yaitu tidak wajib beli tetapi diperbolehkan untuk membeli jika suatu sistem memerlukan tenaga listrik dengan ketentuan-ketentuan yang tidak menyalahi aturan PLN dan tidak mengganggu sistem PLN yang telah ada. Target PLN untuk meningkatkan rasio elertifikasi di Aceh tahun 2018 mencapai 100% untuk rasio desa, dimana ada 12 desa lagi yang akan dilistriki dengan pembangun jaringan atau dengan membangun pembangkit-pembangkit. Pihak PLN menambahkan akan tetapi tidak menutup kemungkinan bagi pihak-pihak  swasta seperti PT. SMS NU Energy ingin membangun di lokasi 12 desa ini yaitu dengan metode yang kedua.

Dalam Kesempatan yang sama Iskandar selaku Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Aceh mengatakan pasti akan mendukung dengan memberikan rekomendasi apalagi dengan melihat PT. SMS Nu energy yang sudah expert dan berfokus pada metode green energy. Acara ini turut diharidi oleh perwakilan dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, Kanwil BPN Aceh, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam.(YS)