Jl. Ahmad Yani, No. 39, Peunayong - Banda Aceh Phone: +62651 23170
Bahasa Indonesia, Event
Banda Aceh – Pelaksana Tugas Gubernur Aceh menjadi keynote speaker atau pembicara utama dalam pertemuan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (CIMT-GT) di Banda Aceh, Rabu 8 Agustus 2018. Pertemuan itu membahas rencana aksi Pembangunan Kawasan Perkotaan dengan Visi Kota Hijau.

Nova Iriansyah mengatakan, topik yang dibahas dalam pertemuan itu sangat relevan dengan program pemerintah Aceh yang menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan (Aceh Green). 

“Kami juga tentu sangat berharap, konsep pembangunan

berbasis Aceh Green ini dapat dilanjutkan dengan pembangunan kota-kota hijau (Green City) di sejumlah wilayah, sehingga visi Aceh Green yang dijalankan di tingkat provinsi diperkuat lagi dengan keberadaan cities greendi wilayah perkotaan,” kata Nova Iriansyah.

Aceh Green adalah salah satu visi pembangunan Aceh. Karena itu, Nova mengatakan, pihaknya menyadari betapa pentingnya menjaga kelestarian alam untuk diseimbangkan dengan laju pembangunan yang sedang berjalan.

“Visi Aceh Green pada dasarnya bukan hanya ditujukan untuk menjaga keseimbangan alam Aceh, tapi juga untuk mendukung semangat dalam mengatasi perubahan iklim yang menjadi isu dunia internasional saat ini,” kata Nova.

Isu perubahan iklim penting dibicarakan sebagai bagian antisipasi dini kerusakan lingkungan. Karenanya, pertemuan IMT-GT penting untuk memembicarakan konsep pembangunan dengan visi hijau guna mengatasi kejadian ekstrim dari perubahan iklim tersebut.

Dalam pertemuan Governour’s Climate and Forest yang berlangsung di Bali, Denmark, Amerika dan Paris, pada tahun 2009 hingga 2015, sejumlah negara maju mengusulkan agar negara-negara berkembang yang masih memiliki tutupan hutan luas agar menerapkan semangat green vision dalam konsep pembangunannya.

Indonesia termasuk yang diharapkan mendukung semangat itu, sebab Indonesia masih memiliki kawasan hutan yang cukup luas. Di Indonesia, salah satu hutan yang memiliki titipan luas adalah Aceh. Di mana ada 3,5 juta hektar hutan yang masih hijau, terdiri dari sekitar 2 hektar hutan lindung dan sekitar 638 ribu hektar hutan produksi.

Untuk mendukung semangat itu, gubernur Aceh kemudian menerbitkan Instruksi Nomor 5 tahun 2007 tentang moratorium logging di seluruh kawasan hutan Aceh. Tujuannya adalah mempertahankan sistem penopang kehidupan, menguatkan kapital sosial masyarakat dan mendukung pembangunan berkelanjutan. 

Selebihnya adalah untuk menjaga keasrian hutan dan terpulihkannya fungsi hutan yang terdegradasi melalui restorasi dan penghutanan kembali lahan kritis. Semangat moratorium itulah yang menjadi dasar bagi Pemerintah Aceh menjalankan visi Aceh Green.

“Aceh Green merupakan landasan bagi pemerintah Aceh dalam menjalankan pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan yang sensitif bencana,” kata Nova.  [Humas-Aceh]
0

Bahasa Indonesia, Event

Banda Aceh – Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah secara resmi membuka pertemuan ke 11 Indonesian-Malaysian- Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Wroking Group on Tourism atau Kelompok Kerja Wisata Indonesia-Malaysia-Thailand ke 11 di Hotel Hermes, Jumat (27/07/2018). 


Pertemuan tersebut akan membahas berbagai langkah kerjasama untuk peningkatan sektor pariwisata di tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand.


“Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Delegasi Malaysia, Thailand, dan semua delegasi terhormat yang datang untuk berpartisipasi dan berbagi dalam acara hari ini,” kata Nova.


Kesempatan ini kata Nova dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kerjasama dan promosi wisata bahari segitiga emas Saphula (Sabang-Phuket-Langkawi).


“Secara spesifik misalnya, pendirian Yacht Club di Phuket, kemudian di Sabang dan Langkawi, nanti mereka inilah yang akan mempromosikan tiga lokasi tersebut ke dunia Internasional,” ujar Nova.


Pemerintah Provinsi dan Negara dari ketiga negara ini kata Nova harus berbagi informasi, praktik terbaik, dan pengalaman berharga lainnya untuk membuat kerjasama yang lebih baik untuk proyek dan program IMT-GT di masa mendatang.


“Kita ingin apa yang sudah dilakukan di Langkawi dan Phuket agar juga dilaksanakan di Sabang,” ujar Nova.

Lebih lanjut kata Nova, peserta IMT-GT harus mencurahkan perhatian dan upaya untuk membuat proses partisipasi kerjasma  IMT-GT lebih efesien, proaktif dan Inovatif.


“Saya mengusulkan, paling tidak untuk permulaan agenda yang jelas dan program kerja pertemuan para ktua dan para gubernur harus dirumuskan,” kata Nova.


Nova meyakini pertemuan IMT-GT akan menjadi platform yang sangat baik untuk kerjasama kedepan, khususnya Aceh dan dapat memajukan hubungan yang saling menguntunkan antara provinsi anggota IMT-GT, Asean dan provinsi lainnya.


Untuk diketahui, Indonesia-Malasysia-Thailand Growth Triangle Working Group Meeting merupakan kelompok kerja yang bertugas untuk menindaklanjuti dan mengimplementasikan kesepakatan kerja sama sektor pariwisata di wilayah IMT-GT. [Humas-Aceh]



0


Banda Aceh – Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah secara resmi membuka pertemuan ke 11 Indonesian-Malaysian- Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Wroking Group on Tourism atau Kelompok Kerja Wisata Indonesia-Malaysia-Thailand ke 11 di Hotel Hermes, Jumat (27/07/2018). 


Pertemuan tersebut akan membahas berbagai langkah kerjasama untuk peningkatan sektor pariwisata di tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand.


“Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Delegasi Malaysia, Thailand, dan semua delegasi terhormat yang datang untuk berpartisipasi dan berbagi dalam acara hari ini,” kata Nova.


Kesempatan ini kata Nova dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kerjasama dan promosi wisata bahari segitiga emas Saphula (Sabang-Phuket-Langkawi).


“Secara spesifik misalnya, pendirian Yacht Club di Phuket, kemudian di Sabang dan Langkawi, nanti mereka inilah yang akan mempromosikan tiga lokasi tersebut ke dunia Internasional,” ujar Nova.


Pemerintah Provinsi dan Negara dari ketiga negara ini kata Nova harus berbagi informasi, praktik terbaik, dan pengalaman berharga lainnya untuk membuat kerjasama yang lebih baik untuk proyek dan program IMT-GT di masa mendatang.


“Kita ingin apa yang sudah dilakukan di Langkawi dan Phuket agar juga dilaksanakan di Sabang,” ujar Nova.

Lebih lanjut kata Nova, peserta IMT-GT harus mencurahkan perhatian dan upaya untuk membuat proses partisipasi kerjasma  IMT-GT lebih efesien, proaktif dan Inovatif.


“Saya mengusulkan, paling tidak untuk permulaan agenda yang jelas dan program kerja pertemuan para ktua dan para gubernur harus dirumuskan,” kata Nova.


Nova meyakini pertemuan IMT-GT akan menjadi platform yang sangat baik untuk kerjasama kedepan, khususnya Aceh dan dapat memajukan hubungan yang saling menguntunkan antara provinsi anggota IMT-GT, Asean dan provinsi lainnya.


Untuk diketahui, Indonesia-Malasysia-Thailand Growth Triangle Working Group Meeting merupakan kelompok kerja yang bertugas untuk menindaklanjuti dan mengimplementasikan kesepakatan kerja sama sektor pariwisata di wilayah IMT-GT. [Humas-Aceh]
0

Bahasa Indonesia

DIALEKSIS.COM | Aceh Besar- Pemerintah Kabupaten Aceh Besar mengikut serta sejumlah produk unggulan pada pameran perdagangan Indonesia – Malaysia – Thailand Growth Triangle (IMT-GT) dan BIMP-EAGA Trade Fair ke-4, 2018 di Convension Center Price of Songkla University, Hatyai Thailand yang  berlangsung 19 hingga 22 Juli 2018.

 

Bupati Aceh Besar Ir Mawardi Ali selaku pimpinan delegasi menjekaskan, bahwa keikutsertaan pada pameran tersebut untuk menunjukkan karakter dan ciri khas daerah, Aceh Besar dengan memamerkan beberapa produk unggulannya seperti kopi dan hasil kerajinan tangan di stand pameran Aceh Besar yang berada di The 4th IMT-GT dan BIMP-EAGA TRADE FAIR 2018 yang mengusung tema ” The Future of Agricultural Product Innovation and Environment ” yaitu masa depan inovasi produk pertanian dan lingkungan hidup.

 

“Kita memastikan bahwa Aceh Besar adalah wilayah yang akan terlibat langsung dalam usaha pengembangan inovasi produk pertanian dan lingkungan hidup di wilayah yang dipimpinnya dimasa mendatang,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan IMT GT, Philippines East Asean Growth Trade Fair ke-4 tahun 2018 ini merupakan kelompok subregional ASEAN yang bertujuan meningkatkan perkembangan ekonomi di 32 wilayah di tiga negara, yakni 10 Provinsi di Indonesia termasuk Aceh, delapan negara bagian diwilayah utara Malaysia, dan 14 di wilayah Thailand. Kegiatan dua tahunan ini dilaksanakan secara bergilir dinegara anggota BIMP-EAGA maupun IMT-GT.

 

Selain memamerkan produk-produk unggulan UMKM, pihaknya juga melakukan promosi destinasi wisata terbaik dan potensi alam lainnya yang dimiliki Aceh Besar dengan tujuan menargetkan kunjungan wisata dari kawasan Asia Tenggara. “Semoga saja dengan hadirnya Aceh Besar dikancah ASEAN semakin memberikan inovasi baru untuk pengembangan daerah dan semakin dikenal di dunia Internasional dengan daerah yang memiliki sumber daya pertanian yang bagus serta wisata yang menarik,” demikian Mawardi Ali.

 

Dalam pameran tersebut, Bupati Aceh Besar turut mengikuti sertakan selain pelaku usaha, Ketua Dekranasda Aceh Besar Rahmah Abdullah SH, Kadiskop, UKM dan Perdagangan Taufiq SH, Kadisparpora Ridwan Jamil SSos MSi dan sejumlah pejabat terkait lainnya.(KBRN/RRI)

Editor :

HARISS Z

0