Jl. Ahmad Yani, No. 39, Peunayong - Banda Aceh Phone: +62651 23170
Bahasa Indonesia, News
Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh menyambut baik rencana investor asal Jepang untuk mengembangkan budidaya ikan Tuna di perairan Banda Aceh. Dengan memberdayakan nelayan lokal, proyek ini diharapkan dapat menjadikan Banda Aceh sebagai pusat bisnis perikanan internasional.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman saat bertemu dengan Presiden I-Fish Yukio Seo di balai kota, Selasa (25/7/2017). I-Fish merupakan sebuah perusahan asal Jepang yang bergerak di sektor perikanan.

Pada kesempatan itu, Aminullah turut didampingi oleh Wakil Wali Kota Zainal Arifin, dan sejumlah pejabat terkait. Sementara Yukio Seo hadir bersama sejumlah koleganya dari Mitsubishi Jepang, Staf Khusus Gubernur Aceh, dan juga perwakilan dari Unsyiah.

“Kami selaku pejabat baru Pemerintah Kota Banda Aceh menyambut baik rencana proyek ini, dan berharap MoU kerja sama dapat terealisasi dalam waktu dekat. Selain budidaya, yang juga perlu kita pikirkan bersama adalah soal pemasarannya nanti,” sebut Aminullah.

Ia juga menginstruksikan dinas terkait terutama DP2KP untuk memanfaatkan peluang kerja sama ini sebaik mungkin. “Yang terpenting setelah dibudidayakan, ikan Tuna ini mampu kita pasarkan. Untuk itu kita juga perlu informasi mengenai negara-negara mana yang butuh impor ikan Tuna.”

Wakil Wali Kota Zainal Arifin menambahkan, Banda Aceh merupakan pintu strategis‎ perdagangan ke luar negeri termasuk ke kawasan timur tengah. “Soal label halal tentu Aceh yang menerapkan Syariat Islam lebih diyakini pasar khususnya di bidang makanan.”

“Banda Aceh juga mempunyai peluang besar di sektor perikanan dengan panjang garis pantai 17 KM dan wewenang pengelolaan potensi laut sejauh 4 mil dari garis pantai. Saat ini sejumlah pengusaha kita sudah mulai mengekspor komodoti unggulan seperti Tuna, Cakalang, Tongkol, dan Sarden ke luar negeri di antaranya Jepang dan Amerika Serikat,” ungkapnya.
Sementara itu, Yukio Seo menyebutkan berdasarkan hasil kajian pihaknya, perairan laut Aceh sangat mendukung untuk perkembangbiakan Ikan Tuna Yellowfin (Sirip Kuning). “Di dunia saat ini baru ditemukan dua lokasi yang cocok bagi ikan ini untuk bertelur yakni di Panama dan Meksiko. Banda Aceh akan jadi lokasi ketiga di dunia, dan ini sangat luar biasa.”

Pria yang pernah menetap di Aceh selama dua tahun ini mengungkapkan soal rencana proyek budidaya ikan Tuna di Banda Aceh juga telah disampaikan pihaknya kepada Pemerintah Jepang dan Pemerintah Indonesia di Jakarta. “Hasil pertemuan dengan Ibu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan RI), beliau merekomendasikan agar kami berkolaborasi dengan PT Perikanan Nusantara (Persero). Sebagai tahap awal, pada Agustus mendatang kita akan menandatangani MoU dengan mereka,” katanya.

Ia juga mengungkapkan, selama ini SDA yang ada di Aceh khususnya sektor perikanan belum dikelola dengan optimal. “Selama ini ikan yang ditangkap oleh nelayan dijual dengan harga murah. Kami berharap dengan adanya proyek budiadaya ini bisa memberi nilai tambah bagi nelayan lokal, dan menggerakan perekonomian Banda Aceh.”

Pada tahap pertama, sambungnya, proyek ini akan mendapat bantuan dana dari JICA. Ia juga membeberkan sekilas mengenai teknik budidaya ikan Tuna akan diterapkan, yakni sistem keramba dengan panjang sekira 50 meter dan kedalaman mencapai 30 meter. “Teknologi yang kita gunakan aman bagi lingkungan. Hasil diskusi dengan Ibu Susi, konsep ini juga memungkinkan kita terapkan di perairan lainnya di Indonesia seperti di Morotai dan Natuna,” pungkasnya.

sumber : 

Amin-Zainal dan Investor Jepang Bahas Budidaya Ikan Tuna

0

Bahasa Indonesia, News
BANDA ACEH – Sebuah perusahaan energi yang berkantor pusat di London, Inggris, Green Energy Geothermal (GEG) menjalin kerjasama investasi dengan Pemerintahan Aceh dalam pembangunan energi panas bumi. Kerjasama itu dibahas dalam pertemuan dengan Pemerintah Aceh yangdihadiri Gubernur Aceh, Zaini Abdullah berserta SKPA dan Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) di Meuligo Gubernur, Rabu tgl 15 Maret 2017.

Pertemuan yang berlangsung tertutup tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi, yakni terjalinnya kerjasama investasi dalam energi panas bumi dan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang rencananya akan dikembangkan di Gunong Geureudong, yang terletak diantara Kabupaten Aceh Utara, Bener Meriah dan Aceh Tengah. “Rekomendasi ini lanjutan hasil rapat sebelumnya, tanggal 17 Januari 2017 lalu,” ujar Iskandarsyah Bakri, Principal Advisor GEG, Rabu (15/3).

Iskandarsyah Bakri menambahkan, tujuan membuat konsorsium untuk kerjasama mengelola Wilayah KerjaPanas Bumi (WKP) di Gunung Geuredong dan juga kerjasama antara PDPA dan GEG untuk membangun energi panas bumi di Aceh yang menguntungkan kedua belah pihak. “Diperkirakan GEG menerapkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sebagaimana digunakan di negara Kenya dan Islandia serta komit menggunakan 100 persen tenaga kerja lokal,” kata Iskandarsyah Bakri.

Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah dalam rapat tersebut mengatakan, tugasini adalah tanggung jawab besar PDPA dan kepercayaan ini harus dijaga untuk mendongkrak peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh dan untuk menciptakan lapangan kerja. “Saya langsung menyarankan kerjasama dengan PDPA, “ tegas Zaini Abdullah.Direktur PDPA, Muksin SE MM juga menambahkan sangat mendukung proses ini dimana PDPA dapat memperoleh keuntungan dan juga salah satu upaya mengatasi krisis energi listrik di Aceh, terutama wilayah tengah dan PDPA siap bekerja ama dengan PLN. “Ini momentum untuk menyelesaikan krisis listrik di Aceh dan juga peluang bagi investor-investor lain melirik Aceh dalam berinvestasi,” katanya.

CEO Green Energy Geothermal (GEG), Terje Laugerud mengatakan,kesanggupannya berinvestasi dalam energi panas bumi di WKP Gunung Geureudong, dan ia berharap kerjasama yang baik ini cepat terealisasi. “KonsepGEG menggunakan teknologi terbaik, ramah lingkungan dan tidak merusak hutan karena tidak membutuhkan areal yang besar,” ujarnya.Terje menambahkan, teknologi yang diterapkan GEG sangat cepat pembangunannya dibandingkan dengan sistem konvensional lainnya. “Untuk pengeboran satu sumur projek Geotermal menghabiskan sekitar Rp 65 milliar. Dengan sistem dan teknologi dipakai GEG sangat menghemat waktu dan investasi karena membangun PLTP langsung di sumur geotermal dan memproduksi listrik secara cepat,” jelasnya.

Disamping pertemuan dengan Gubernur Aceh, GEG juga mengunjungiWKP Seulawah Agam Lamteuba, Aceh Besar dan site visit ke proyek panas bumi di Jaboi, Sabang. GEG berkantor pusat di London ini memiliki kantor perwakilan di 6 negara yakni di Islandia, Indonesia, Singapura, Kenya, Filipina dan Norwegia.

source : http://aceh.tribunnews.com/2017/03/17/green-energy-geothermal-kerjasama-investasi-dengan-pemerintah-aceh

0