Bahasa Indonesia

IMT-GT untuk Aceh

BANDA ACEH, (Kamis, 19 Oktober 2017). Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu DPMPTSP) menyelenggarakan Workshop Revitalisasi Kerjasama IMT-GT di Hotel Grand Nanggroe Banda Aceh pada Kamis (19/10). IMT-GT (Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle) sudah 24 tahun berdiri dan Aceh sebagai pionir dalam kerja sama ini telah mendapat kemajuan terutama di sektor pariwisata dan konektivitas baik udara dan laut. Sebagaimana disampaikan oleh Presiden Jokowi pada IMT-GT Summit ke-10 di Manila, bahwa pengembangan paket wisata untuk kawasan segitiga pertumbuhan ekonomi ini harus ditingkatkan. Misalnya paket wisata kapal cruise Sabang-Phuket-Langkawi sebagai salah satu upaya peningkatan konektivitas dalam kawasan kerja sama. Oleh karenanya pembangunan konektivitas sangat penting.

 

Hal senada disampaikan oleh narasumber dari Sekretariat Nasional IMT-GT Indonesia, Netty Muharni, selaku Asisten Deputi Kerja Sama Regional dan Subregional Kemenko Perekonomian bahwa  sektor pariwisata di kawasan IMT-GT mengalami peningkatan setiap tahunnya.  Namun posisi Malaysia mengungguli Thailand dan Indonesia. Perlu memanfaatkan kerja sama IMT-GT untuk menarik minat wisatawan ke Indonesia terutama ke Aceh. Bandara internasional di Sumatera berjumlah 9, namun penerbangan internasional baru beroperasi di 6 bandara udara, di Malaysia 4 bandara dan di Thailand terdapat 5 bandara. Tetapi untuk HUB masih berada di Malaysia, oleh karena itu diharapkan dengan adanya IMT-GT dapat dimaksimalkan konektivitas dengan Malaysia dan Thailand untuk menunjang perkembangan ekonomi dan pariwisata.

 

Di samping itu, proyek infrastruktur strategis nasional sebagian dimasukkan ke dalam kerja sama IMT-GT, di antaranya jalan tol Sumatera dan jalur Kereta Api Trans Sumatera untuk menghubungkan logistik dan pergerakan manusia dari Aceh ke Lampung. Hal ini membuktikan komitmen Indonesia meningkatkan konektivitas di Sumatera dengan Malaysia dan Thailand. Selain proyek Green City, ada juga program University Network (Uninet) yang diketuai oleh Unsyiah.

 

Area kerja sama dalam IMT-GT yaitu: infrastruktur dan transportasi (perhubungan), perdagangan dan investasi, pariwisata, produk jasa halal, bidang pengembangan sumber daya manusia, pendidikan dan kebudayaan, pertanian dan agroindustri, dan lingkungan (green city). Perlu perubahan paradigma kerja sama IMT-GT untuk menyatukan program kerja sama yang menjadi prioritas tujuan IMT-GT. Misalnya “Quality Tourism” dengan menaikkan standar pelayanan umum ke standar internasional, di antaranya   kebersihan jalan dan tempat makan, transportasi, rumah sakit berstandar pelayanan internasional, bahkan pendidikan setara internasional. Indonesia perlu mencontoh bahkan melakukan terobosan baru untuk pariwisata. Untuk mewujudkan semua program IMT-GT diperlukan kerja gotong royong bersama-sama semua yang terkait agar rencana aksi lebih maksimal terealisasi.

 

Pelaku usaha menjadi salah satu kunci dalam keberhasilan ekonomi, dan IMT-GT menjadi jembatannya. UKM perlu digerakkan melalui pasar IMT-GT. Barang dari Aceh masih belum bisa bersaing dengan luar karena masih terlalu mahalnya ongkos logistik. Oleh karena itu menyangkut logistik harus dicarikan solusi supaya bisa lebih murah. Para pengusaha Aceh perlu di bina secara intens untuk menggebrak pasar IMT-GT. Agar orang mau berinvestasi di Aceh, perlu nilai tambahnya untuk produk dan pelayanan yang ditawarkan.


Untuk pariwisata boleh mengembangkan “syariah tourism” yang di dalamnya menyediakan produk dan  halal. Hal ini disampaikan oleh Khairul Mahalli, selaku ketua JBC Indonesia Acara yang dimoderatori oleh Syaifullah Muhammad dari ICAIOS, cukup menarik karena para peserta yang hadir cukup antusias dalam memberikan komentar maupun pertanyaan. Sulaiman Dahlan, ketua APINDO yang merupakan salah satu inisiator berdirinya IMTGT menyampaikan sejarah perkembangan IMT-GT selama 24 tahun belakangan ini. Dari Diskominfo dan Persandian Aceh mengimbau untuk mengembangkan produk unggulan Aceh sebelum ditawarkan/diperdagangkan keluar negeri dengan memanfaatkan pelabuhan bebas di Sabang. Dari Universitas Malikussaleh menyatakan bahwa Aceh harus memiliki “Halal Industry Roadmap” karena saat ini produk halal terbesar di dunia di pegang oleh Brazil, bukan Aceh yang sudah mengklaim diri sebagai daerah syariah. Dari Biro Ekonomi Sekda Aceh menyampaikan kerja sama daerah saat ini mengalami penurunan karena tidak ada lagi yang menanganinya karena perubahan untuk itu perlu digaungkan kembali karena kerja sama dalam IMT-GT sangat penting sekali. (MJ)

Author


Avatar