Jl. Ahmad Yani, No. 39, Peunayong - Banda Aceh Phone: +651 23170
Bahasa Indonesia, Event, investinaceh, investment, News

Banda Aceh, Rapat Koordinasi yang diadakan pada hari Senin tanggal 17 September 2018 di Ruang Oproom DPMPTSP Aceh, dihadiri oleh pejabat struktural DPMPTSP, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Aceh, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA), dan KIA Ladong dengan tujuan membahas rencana investasi dari PT. Great Giant Pineapple (GGP) di Aceh. PT. Great Giant Pineapple (GPP) ini telah berdiri di Lampung Tengah dan telah berkecimpung di bidang pabrik olahan nenas. Saat ini, produk nenas olahan mereka telah diekspor ke berbagai negara di Asia Selatan dan Afrika. Rencana PT. GGP melakukan investasi di Aceh juga dikemukakan oleh Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri kepada Pemerintah Aceh.

GGP meminta Pemerintah Aceh untuk memfasilitasi penyediaan lahan pertanian hortikultura dengan minimal lahan 4000 Hektar (Ha) dengan permukaan lahan datar. Selain itu, PT. GGP juga berjanji akan mempekerjakan tenaga kerja berjumlah 1,5 orang pekerja per Ha sehingga total tenaga kerja yang akan terserap berjumlah 6000 orang pekerja ditambah dengan tenaga kerja yang akan terserap di pabrik penyimpanan dan pengepakan milik PT. GGP di KIA Ladong nantinya. Pemilihan KIA Ladong ini dilatarbelakangi dekat dengan Pelabuhan Malahayati dan telah tersedianya berbagai infrastruktur di KIA Ladong, Aceh Besar seperti listrik, air bersih, izin lingkungan dan lain-lain.

Merespon hal tersebut, pada rapat koordinasi ini, PDPA mengharapkan adanya koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh,  Dinas Pertanahan Aceh dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh dalam melakukan percepatan penyelesaian status lahan agar nantinya lahan yang akan direncanakan untuk perkebunan PT. GGP ini tidak tumpang tindih (Overlapping) dengan kepemilikan lain. Selain isu penyediaan lahan, keterlibatan masyarakat melalui sistem transmigrasi dan famming juga menjadi salah satu solusi untuk mencukupi kebutuhan lahan untuk PT. GGP di dalam rapat tersebut. (EKA)

0

Bahasa Indonesia, Event, investinaceh

Banda Aceh, Rabu (15 Agustus 2018).
 Pemerintah Aceh melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh turut mendukung pengembangan pariwisata aceh secara serius di berbagai potensi budaya dan alam. Salah satunya dengan terselenggaranya kegiatan Tourism Business Matching dan Famtrip selama 3 hari terhitung tanggal 13-15 Agustus 2018 yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 yang diikuti 24 peserta top table yang terdiri dari 47 peserta buyer dan seller yang berasal dari Aceh, Vietnam, Malaysia, Turki, Thailand, Jepang, Jakarta, Palembang, Riau, Medan, dan Bandung.

Acara puncak  kegiatan Aceh Tourism Business Matching dan Famtrip yang diadakan di Hotel Hermes Palace Banda Aceh ini dibuka langsung oleh Wakil Ketua Seksi Aceh Tourism Business Matching dan Famtrip, Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh, Amiruddin Tjoet Hasan mewakili Kepala DPMPTSP Aceh selaku Ketua Seksi, dimana di dalam kata-kata sambutannya menyebutkan Pemerintah Aceh sangat semangat untuk membawa Aceh menjadi destinasi budaya unggulan. Aceh sendiri sudah dikenal, dikunjungi, dan dirasakan keunikannya oleh para pelancong dari berbagai latar belakang kebudayaan dunia. Sebagaimana diketahui, Aceh telah meraih berbagai penghargaan kompetisi Pariwiasata Halal Nasional pada Tahun 2016, yaitu sebagai destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim Terbaik, Bandara Sultan Iskandar Muda sebagai Airport Ramah Wisatawan Muslim Terbaik, dan Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh sebagai Daya Tarik Wisata Terbaik. Selain itu, Aceh juga mendapat penghargaan pada Halal Tourism Award pada tahun 2016, yaitu Aceh sebagai World’s Halal Cultural Destination dan Worid’s Best Airport for Halal Travellers.

Untuk itu, Pemerintah Aceh terus melakukan pengembangan pariwisata secara secara serius dan terencana sebagaimana termaktub dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional (RIPPN) dan dirincikan lagi dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPDA). Sejalan dengan hal tersebut, beberapa daerah telah dipersiapkan menjadi destinasi wisata di Aceh yaitu Kota Banda Aceh, Kota Sabang, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Singkil, Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Simeulue, dan Kabupaten lain yang memiliki potensi pariwisata. Pemerintah Aceh menawarkan investasi pembangunan sarana pendukung wista, seperti hotel, resort, restoran dan lainnya, terutama di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang yang lahannya sudah clear and clean, dengan perizinan yang cepat dan insentif yang menguntungkan dunia usaha.


Pengembangan pariwisata ini tidak terlepas dari peran para pebisnis sektor pariwisata seperti travel agent, tour planner, event organizer, MICE service provider, serta para pelaku usaha lainnya sehingga dengan adanya acara Tourism Business Matching dan Famtrip ini menjadi ajang yang sangat selektif bagi semua pihak, para seller dan buyer untuk menemukan calon mitra bisnis potensial. Pemerintah Aceh mengharapkan acara ini dan kegiatan Famtrip dapat memperluas jaringan bisnis para pebisnis sektor pariwisata dengan pangsa pasar, mitra usaha, dan destinasi baru agar kebudayaan Aceh tetap lestari, tapi juga dapat memberikan multiplyer effect bagi gerak roda ekonomi masyarakat Aceh. (EK)
0