Jl. Ahmad Yani, No. 39, Peunayong - Banda Aceh Phone: +651 23170
Bahasa Indonesia, Event, investment, News

Banda Aceh, Forum Fasilitasi Kemitraan Ukm Dengan Perusahaan PMA/PMDN, BUMD/BUMN dan Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Aceh yang diadakan pada hari Kamis tanggal 27 September 2018 bertempat di Hotel Grand Arabia yang dilaksanakan oleh DPMPTSP Aceh dengan mengundang para undangan yang terdiri dari UKM yang berasal dari berbagai kabupaten kota di Aceh, Perusahaan BUMN seperti PT. TELKOM Indonesia, Bank MANDIRI dan Bank Negara Indonesia (BNI), serta Perusahaan Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) seperti PT. Surya Panen Subur dan PT. Ujong Neubok Dalam dan Perwakilan Dari Dinas Industri dan Perdagangan Aceh. Forum ini dibuka langsung oleh Bapak Sekretaris DPMPTSP Aceh, Zulkarnaini, S.E., beliau mengatakan “Diharapkan dapat memberikan dampak positif serta dukungan Pemerintah Aceh dalam memfasilitasi kerjasama UKM dengan Perusahaan guna mengembangkan kemampuan Usaha UMKM menjadi usaha yang tangguh dan mandiri”.

 

Setelah acara Pembukaan, Forum dilanjutkan dengan Presentasi dan Diskusi dari berbagai Narasumber yang berasal dari Pemerintah, Konsultan PLUT KUMKM Aceh, dan Perusahaan. Presentasi pertama yang disampaikan oleh Kasi Sekunder Direktorat Pemberdayaan Usaha BKPM RI, Hanafiah, S. Sos., mengangkat tema tentang Peran Pemerintah Dalam Mengembangkan UMKM. Hanafiah membahas Dasar-dasar Hukum yang mendasari bidang usaha diantaranya UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, UU No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), Peraturan Pemerintah (PP) No. 17 Tahun 2013  Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, PP No. 98 Tahun 2014 Tentang Perizinan untuk Usaha Mikro dan Kecil serta PP No. 44 Tahun 2016 Tentang Daftar Usaha Yang tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal. Selain itu, Hanafiah menjelaskan “Bidang Usaha dalam kegiatan Penanaman Modal Terdiri atas bidang usaha yang terbuka, tertutup, dan terbuka dengan Persyaratan”. Beliau juga menjelaskan bahwa bidang usaha yang mampu melibatkan kemitraan usaha dapat mendatangkan keuntungan dan memperkuat antara pelaku usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. “Pemerintah melalui Direktorat Pemberdayaan Usaha BKPM, mendukung pola kemitraan ini dengan mengadakan pelatihan kemampuan kewirausahaan, Matchmaking dalam negeri dan luar negeri, dan monitoring perusahaan PMA dan PMDN yang wajib bermitra” penjelasan Hanafiah.

 

Presentasi Kedua disampaikan oleh Pujo Basuki selaku Konsultan PLUT KUMKM Aceh, dalam pemaparannya Pujo mengambil tema tentang Pengembangan Jaringan dan Kerjasama/Kemitraan dalam Pembinaan KUMKM Aceh. Pujo menjelaskan “PLUT sendiri merupakan Pusat Layanan Usaha Terpadu yang menjadi program dari Kementerian Koperasi dan UKM yang di Indonesia sendiri telah ada sekitar 49 Kantor PLUT guna memberi pendampingan KUMKM dalam lingkup produksi meliputi akses bahan baku, pemasaran (meliputi informasi pasar, fasilitas akses pasar, promosi dan jaringan pemasaran), pembiayaan (meliputi advokasi dan pendampingan jasa keuangan), kelembagaan (meliputi koperasi, kemitraan, klaster, fasilitas perijinan seperti aplikasi OSS), dan SDM (meliputi pelatihan, pendampingan, akses magang, kerjasama diklat/pendampingan dengan swasta).”

 

Presentasi berikutnya disampaikan oleh Direktur PT. Zio Nutri Prima, Faozi Hikmah. Presentasi ini di kemas dengan berbagi pengalaman dengan UKM di Aceh menambah antusias peserta Forum ini. Faozi menceritakan tentang proses perkembangan usaha puree (bubur) perusahaan ini  yang dimulai sejak Juni 2007 dan masih menggunakan proses produksi secara manual hingga saat ini yang mampu menyuplai hasil produksi ke berbagai perusahaan besar seperti Mayora, ABC, dan lain-lain. Selanjutnya, presentasi terakhir disampaikan oleh Andriansyah selaku Kepala Pabrik Kepala Sawit Amara Plantation (PT. Surya Panen Subur). Andriansyah menjelaskan proses pengolahan kelapa sawit dan pemanfaatan limbah pabrik kelapa sawit (PKS) yang dimulai dengan proses penerimaan bahan baku yang berasal dari kebun sendiri dan kebun mitra dari masyarakat sekitar dimana keterlibatan masyarakat ini merupakan salah satu contoh bentuk kemitraan dalam bidang usaha. Selain itu, proses produksi kelapa sawit menjadi crude palm oil (CPO) dan limbah yang memiliki nilai guna tinggi seperti limbah tandan kosong yang bermanfaat sebagai pupuk kompos, pulp kertas, dan energi, limbah cangkang untuk arang, karbon aktif, serta limbah serabut untuk energi, pulp kertas, papan partikel.

Setelah pemaparan materi oleh semua narasumber, forum dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi oleh para peserta kepada narasumber diantaranya kurangnya keberadaan PLUT di Kabupaten, masa daya simpan untuk produk buah-buahan, permodalan UKM yang masih sulit, dan kurangnya sarana prasarana untuk mendukung perusahaan dalam berbagai proses produksi seperti kemasan dan lain-lain. Selanjutnya, forum ini ditutup dengan one on one meeting dan penandatangan Mou Kerjasama antara pihak UMKM, Perusahaan dan perbankan. (EKA)
0

Bahasa Indonesia, Event, investinaceh, investment, News

Banda Aceh, Rapat Koordinasi yang diadakan pada hari Senin tanggal 17 September 2018 di Ruang Oproom DPMPTSP Aceh, dihadiri oleh pejabat struktural DPMPTSP, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Aceh, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA), dan KIA Ladong dengan tujuan membahas rencana investasi dari PT. Great Giant Pineapple (GGP) di Aceh. PT. Great Giant Pineapple (GPP) ini telah berdiri di Lampung Tengah dan telah berkecimpung di bidang pabrik olahan nenas. Saat ini, produk nenas olahan mereka telah diekspor ke berbagai negara di Asia Selatan dan Afrika. Rencana PT. GGP melakukan investasi di Aceh juga dikemukakan oleh Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri kepada Pemerintah Aceh.

GGP meminta Pemerintah Aceh untuk memfasilitasi penyediaan lahan pertanian hortikultura dengan minimal lahan 4000 Hektar (Ha) dengan permukaan lahan datar. Selain itu, PT. GGP juga berjanji akan mempekerjakan tenaga kerja berjumlah 1,5 orang pekerja per Ha sehingga total tenaga kerja yang akan terserap berjumlah 6000 orang pekerja ditambah dengan tenaga kerja yang akan terserap di pabrik penyimpanan dan pengepakan milik PT. GGP di KIA Ladong nantinya. Pemilihan KIA Ladong ini dilatarbelakangi dekat dengan Pelabuhan Malahayati dan telah tersedianya berbagai infrastruktur di KIA Ladong, Aceh Besar seperti listrik, air bersih, izin lingkungan dan lain-lain.

Merespon hal tersebut, pada rapat koordinasi ini, PDPA mengharapkan adanya koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh,  Dinas Pertanahan Aceh dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh dalam melakukan percepatan penyelesaian status lahan agar nantinya lahan yang akan direncanakan untuk perkebunan PT. GGP ini tidak tumpang tindih (Overlapping) dengan kepemilikan lain. Selain isu penyediaan lahan, keterlibatan masyarakat melalui sistem transmigrasi dan famming juga menjadi salah satu solusi untuk mencukupi kebutuhan lahan untuk PT. GGP di dalam rapat tersebut. (EKA)

0

Bahasa Indonesia, Events, News

Banda Aceh, Minggu (20 Agustus 2017). Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh
yang setiap tahunnya mengadakan event untuk pariwisata Aceh, kembali
menyelenggarakan event dengan tema “Aceh Internasional Halal Food Festival (AIHFF)
tahun 2017. Event yang berlangsung di Taman Sari – Banda Aceh ini berlangsung dari
tanggal 18 s.d 20 Agustus 2017. Event ini juga merupakan salah satu bagian dari
program kerjasama dalam IMT-GT untuk pengembangan Halal Tourism. Peserta yang
turut hadir dari negara peserta IMTGT yaitu Malaysia dan Thailand. Disamping itu
peserta yang hadir dari Indonesia seperti Provinsi Sumatera Utara dan seluruh
Kabupaten/Kota di Aceh, membawa aneka kuliner yang menjadi andalannya untuk
diperkenalkan sekaligus dapat dinikmati masyarakat dengan harga yang terjangkau.

Acara pembukaan dimulai dengan Khanduri Leumang, masyarakat yang hadir dapat
menikmati Leumang secara cuma-cuma. Pada hari kedua terdapat coffee meeting 3
negara IMT-GT (Indonesia, Malaysia, Thailand) yang membahas mengenai
peningkatan ekonomi halal, dalam rangka meningkatkan pendapatan provinsi Aceh dan
peningkatan ekonomi masyarakat memerlukan program jangka pendek, menengah dan
panjang dengan inti Halal Tourism, Halal Foods, Halal Herbal Products, Halal Services.

DPMPTSP Aceh agar segera membuat outline dari hasil coffee meeting. Saran-saran
dipertimbangkan sesuai visi misi, rencana aksi dan dana. Pastikan pemerintah (SKPA
terkait), asosiasi pengusaha mengimplementasikan serta memfollow up agar berjalan
sebagaimana mestinya.

Delegasi dari Malaysia diketuai oleh Ketua JBC IMT-GT Malaysia, Datok Fauzi Naim
beserta dengan pengusaha Alhadad yang bergerak di sektor halal food industri.
Delegasi dari Thailand diikuti oleh pusat study halal Bangkok (Halal science center) dari
universitas Chulalongkorn Bangkok. Diharapkan dengan kehadiran peserta IMT-GT
pada AIHFF 2017, wisata halal dan kuliner di Aceh menjadi lebih dikenal serta semakin
meningkatnya minat dari Thailand dan Malaysia berkunjung ke Aceh. Dari sektor
investasi diharapkan adanya minat dari para stakeholder yang tergabung dalam
kerjasama IMT-GT ini dapat membangun industri-industri makanan lainnya. Terlebih
saat ini Aceh telah memiliki KEK Arun, yang merupakan kawasan industri terpadu,
dapat mengajak para pelaku bisnis yang ada di kawasan kerjasama IMT-GT dapat
berinvestasi di KEK Arun.

AIHFF 2017 menghadirkan makanan khas Aceh, makanan Nasional, dan makanan
Internasional. Adapun acara lainnya seperti kompetisi memasak, “ngopi merdeka”
dalam rangka HUT RI ke 72 tahun serta berbagai lomba lainnya dengan tujuan
menambah semaraknya event ini. Pada hari terakhir, mengusung 1074 hidang talam
dan dilanjutkan makan bersama berhasil memecahkan penghargaan Rekor MURI
“1000 talam” yang diterima langsung oleh Wakil Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT

didampingi Ketua DPRA, Wali Kota dan Wakil Walikota Banda Aceh, ketua DPRK
Banda Aceh, serta Kepala DISBUDPAR Aceh. Tahun ini Aceh telah dua kali
mendapatkan Rekor MURI, yang pertama Tarian Saman dengan Penari terbanyak
12.000 orang di gayo Lues, dan saat ini kembali mendapatkan Rekor MURI untuk
kategori Hidangan 1000 talam. “Saya sangat mengapresiasi Walikota dan Wakil
Walikota Banda Aceh dan semua pihak yang telah membantu terlaksananya acara hari
ini. Sangat mendukung untuk diadakan event-event lainnya di Aceh yang menunjang
pariwisata Aceh serta memajukan Aceh”, ujar Wagub dalam sambutannya.

Disesi akhir sore sebelum penutupan akan diselenggarakan Khenduri Sate Matang dan
Sie Reboh, yang akan diberikan secara gratis untuk pengunjung. Setelah sebelumnya
juga ada pembagian 1200 cangkir kopi gratis bagi masyarakat yang datang di acara
AIHFF 2017. Event ini mendapat sambutan luar biasa baik dari para peserta maupun
masyarakat karena baru pertama kali diadakan dan sangat berguna menambah
pengetahuan tentang kuliner Aceh khususnya dan serta makanan halal dari negara
Malaysia dan Thailand yang sangat beragam dan jajanan nasional yang banyak
digandrungi saat ini. Bahkan salah satu pengunjung menuturkan, sudah tiga kali datang
selama acara ini berlangsung sebab sangat menarik dan tentunya suasana yang
dihadirkan sangat nyaman, bersih dan teratur. (MJ).

0

PREVIOUS POSTSPage 1 of 2NO NEW POSTS