Uncategorized

Focus Group Discussion : Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Agroindustri dan Pariwisata di Aceh

Pada tanggal 2 Juli 2019, bertempat di ruang rapat I, lantai II DPMPTSP Aceh diadakan Diskusi tentang Penyusunan Pemetaan Potensi Dan Peluang Investasi di Aceh yang diikuti oleh peserta dari Dinas terkait baik Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dibuka oleh Sekretaris DPMPTSP Aceh Bapak Zulkarnaini S.E. Focus Group Discussion yang sering dikenal dengan singkatan FGD ini memiliki tema kegiatan yaitu Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Sektor Agroindustri dan Pariwisata. 
Acara ini juga di hadiri oleh beberapa akademisi, seperti Dr. Amri S.E, M.SI,dan Dr. Nazaruddin Ali Basyah, M.ED . Ajang silahturahmi dan juga mendiskusikan data sehingga diperoleh data yang akurat merupakan tujuan dari acara yang berdurasi 3 jam ini.
Acara ini di pimpin oleh Bapak Dr. Amri S.E, M.SI yang juga selaku Tim Penulis yang diharapkan dapat menghasilkan satu dokumen sebagai informasi awal kepada calon investor penanaman modal.
Hasil diskusi yang diperoleh dari beberapa perwakilan kabupaten/kota wilayah timur Aceh yang ikut serta dalam acara ini diantaranya adalah dari kabupaten/kota Aceh Tamiang yaitu diharapkan hasil kajian pemetaan potensi dan peluang investasi sektor agroindustri dan pariwisata ini dibuat dalam aplikasi atau website yang menampilkan potensi-potensi setiap wilayah.
Masukan dari Biro Perekonomian Setda Aceh adalah untuk fokus dalam pengembangan wisata islami di Aceh dan juga kembali memberdayakan usaha-usaha masyarakat yang telah menghilang seperti tenun Aceh, karena seperti yang telah kita ketahui banyak sekali kerajinan yang dari dulu telah ada namun makin lama semakin tergerus oleh waktu yang membuat kekayaan Aceh khususnya dalam bidang tenun semakin tidak terdengar kabar nya.
Badan Perencanaan Pembangunan daerah Aceh juga ikut ambil bagian dari FGD ini memberikan saran agar dalam pengembangan wisata halal, harus memperhatikan beberapa aspek untuk wisata halal itu, antara lain terdapat produk makanan halal, fasilitas ibadah di lokasi wisata, Ramadhan Puasa, tidak ada tempat maksiat dilokasi wisata, dan terdapat fasilitas pembatas antara laki-laki dan perempuan.
Banyak sekali potensi yang melimpah di provinsi Aceh ini seperti Aceh Tamiang yang kaya akan kelapa sawit, karet dan kakao dan di sektor perikanan baik udang, kepiting, dan bandeng juga melimpah hasilnya. Namun sangat disayangkan semua produk tersebut tidak diolah ditempat penghasilnya sendiri melainkan di daerah lain. Kabupaten Aceh Timur merupakan penghasil garam dan kesemek.Di Kabupaten Pidie terdapat kakao, bahkan di tahun 2017 luas tanaman kakao paling luas sebesar 10.383 hektar, sementara tanaman kelapa seluas 8.634 hektar. Produksi dari kelapa paling besar jika dibandingkan dengan tanaman perkebunan lainnya sebesar 5.370 ton.
Kabupaten Pidie Jaya sangat unggul dengan kakao nya yang industri pengolahannya yang sudah berkembang yaitu Socolatte. Produk Socolatte tersebut dapat kita temui dengan mudah di daerah Bandar baru, Pidie jaya, karena memiliki outlet yang banyak dikunjungi oleh khalayak ramai. Namun jika kita tidak berdomisili di daerah tersebut, kita dapat menemukan produk Socolatte ini di toko kerajinan Aceh.
Dari daerah Lhokseumawe kita akan melihat potensi dari sektor pariwisata wisata kuliner dan religi yaitu dengan adanya Mesjid Agung Islamic Center.
Sedangkan dari kota Langsa fokus potensi nya dari wisata kuliner, karena lahan pertanian dan perkebunan kurang.
Diskusi ini diakhiri dengan masukan dari DPMPTSP Aceh , bidang Promosi yaitu diharapkan agar potensi yang disampaikan daerah jangan hanya berdasarkan komoditi tetapi dilihat juga kesiapan daerah dalam hilirisasi masing-masing potensi seperti kesiapan lahan, infrastruktur pendukung dan insentif untuk investasi tersebut.
DPMPTSP juga berharap bahwa potensi yang diusulkan masing-masing Kabupaten/Kota nanti sudah dilengkapi dengan informasi kelayakan bisnis sehingga pemetaan potensi dan peluang investasi dapat dijadikan informasi awal untuk para calon investor

Author


Avatar