investment, News

Investor Makin Optimistis terhadap Indonesia


SEMANGAT dan kepercayaan diri para pelaku industri disebut terus menguat untuk terus melakukan ekspansi. Kehadiran ivestor baru yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia pun semakin menggila ketimbang dengan tahun sebelumnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebut kondisi tersebut berkat kestabilan perekonomian dan politik di Tanah Air. Iklim investasi kondusif serta komitmen pemerintah memberikan kemudahan perizinan usaha juga turut memberikan dukungan lebih.
 
“Outlook tahun ini kami optimistis bahwa investasi akan meningkat dibanding periode 2018. Meskipun di kuartal terakhir kemarin, ada turbulence ekonomi dengan fluktuasi currency dan trade war. Tetapi sekarang terihat jelas bahwa optimisme sudah terbangun,” kata Airlangga di Jakarta, Rabu (6/2).

Sinergi dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga telah membuahkan hasil. Beberapa investor di sektor strategis seperti industri petrokimia dan baja mulai kini masuk lagi ke Indonesia. “Misalnya, Lotte yang telah ground breaking, itu akan selesai pada 2022 untuk menambah satu juta ton produk plastik dan turunannya,” ungkapnya.
 
Selain itu, klaster industri baja di Cilegon sedang ditargetkan mampu produksi sebanyak 10 juta ton pada 2025. Ini tidak terlepas adanya kolaborasi antara PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. dengan sejumlah produsen baja skala global seperti Posco, Nippon Steel, Osaka Steel, dan Sango Corporation.
 
“Selama dua dekade lalu, investasi petrokimia dan baja ini terhenti. Nah, sekarang mulai bergerak kembali. Selain kapasitas klaster Cilegon bertambah, di klaster Jawa Timur juga terjadi dari divestasi Freeport yang masuk bikin copper smelter,” paparnya.
 
Kemudian, perusahaan-perusahaan smelter nikel di kawasan industri Sulawesi Tengah, sudah mampu ekspor senilai 5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dan mengalami kenaikan hingga 78% ke pasar Negeri Paman Sam. Kondisi itu menunjukkan daya saing industri di Indonesia yang kompetitif di kancah global.
 
“Menandakan pula bahwa minat ekspansi di sektor industri tidak hanya dari investor dalam negeri, tetapi juga luar negeri,” ucap Airlangga.
 
Airlangga menambahkan, ekspor perdana smarthome router ke AS yang dilakukan oleh PT Sat Nusapersada di Batam, juga mengindikasikan adanya gairah industri di Indonesia selain di Tiongkok dan Vietnam.
Airlangga juga meyakini prospek industri tesktil, pakaian, dan alas kaki bakal tumbuh positif pada 2019. Sebab, ada beberapa perusahaan yang akan merelokasi atau memindah ordernya ke Indonesia seiring terjadi perang dagang AS-Tiongkok.
 
Investasi di lima sektor yang menjadi prioritas dalam Making Indonesia 4.0 bakal terus didorong. Namun demikian, sektor lain juga dipacu seperti industri pulp dan kertas serta baja. “Tahun ini, pabrik rayon segera beroperasi di Sumatera Selatan dan Riau,” lanjutnya.
 
Berdasarkan data yang dirilis BKPM, realisasi investasi industri manufaktur pada 2018 mencapai Rp222,3 triliun. Industri makanan mencatatkan realisasi investasi terbesar pada penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp39,1 triliun. Selanjutnya, diikuti industri kimia dan farmasi dengan nilai investasi sebesar Rp13,3 triliun.
 
Sedangkan untuk penanaman modal asing (PMA), sektor industri pengolahan yang investasinya terbesar yakni industri logam dasar, barang logam bukan mesin, dan peralatannya senilai 2,2 miliar dolar AS. Selain itu, investasi industri kimia dan farmasi senilai 1,9 miliar dolar AS serta industri makanan sebesar 1,3 miliar dolar AS.
 
Kepercayaan dari para investor dinilai dapat menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi negara tujuan dan pilihan yang tepat untuk menjadi basis produksi manufaktur mereka. Tujuannya baik untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun mengisi pasar ekspor.
 
“Kami optimistis outlook pertumbuhan ekonomi kita lebih positif, walaupun perekonomian di dunia masih slow growth,” kata Airlangga.  (Medcom/OL-7)



Author


Avatar