aceh, News, pranala luar

Jejak Langkah Nova: Merajut Mimpi Pendahulu

SAMBUNG menyambung menjadi satu, itulah Indonesia.

Penggalan bait lagi Dari Sabang Sampai Merauke karya R Suharjo, yang diciptakan 75 tahun lalu itu sepertinya cocok dengan salah satu arah pembangunan Aceh.

Di mana, Gubernur Aceh Nova Iriansyah mencoba melanjutkan mimpi para gubernur terdahulu: menghubungkan setiap kabupaten/kota di Aceh.

Mimpi itu mulai dicetuskan Gubernur Ibrahim Hasan di awal-awal tahun 1990-an.

Beliau memberi nama Jalan Terobosan.

Tujuannya tak lain, menghubungkan lintas kabupaten agar perekonomian warga bisa bergeliat.

Masa berganti. Samsudin Mahmud memimpin Aceh.

Perencanaan beliau masih sama.

Pesisir Aceh, mulai dari Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Barat, dan Nagan Raya, termasuk Kota Subulusalam, dengan kawasan tengah seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Gayo Lues haruslah tersambung melalui jalur darat dan tentu dengan jarak yang dekat.
Di mana, Gubernur Aceh Nova Iriansyah mencoba melanjutkan mimpi para gubernur terdahulu: menghubungkan setiap kabupaten/kota di Aceh.

Mimpi itu mulai dicetuskan Gubernur Ibrahim Hasan di awal-awal tahun 1990-an.

Beliau memberi nama Jalan Terobosan.

Tujuannya tak lain, menghubungkan lintas kabupaten agar perekonomian warga bisa bergeliat.

Masa berganti. Samsudin Mahmud memimpin Aceh.

Perencanaan beliau masih sama.

Pesisir Aceh, mulai dari Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Barat, dan Nagan Raya, termasuk Kota Subulusalam, dengan kawasan tengah seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Gayo Lues haruslah tersambung melalui jalur darat dan tentu dengan jarak yang dekat.
Pak Sam, memberi label Jaring Laba-Laba untuk proyek ini.

Mimpi dua gubernur pendahulu itu kemudian dilanjutkan oleh Abdullah Puteh.

Ia menyebut program itu Ladia Galaska.

Program yang kemudian dilanjutkan oleh dua gubernur setelahnya; Zaini Abdullah dan Irwandi Yusuf.

Namun apa kemudian mimpi itu sudah terjawab? Jawabannya belum.

Hingga tahun 2017 hanya satu ruas dari 14 ruas jalan yang sudah benar-benar rampung.

Adalah jalan penghubung dari Aceh Utara ke Bener Meriah atau disebut jalan eks KKA (PT Kertas Kraf Aceh) sepanjang 45 km.

Selebihnya masih belum tuntas.

Ada satu penyebab pembangunan 14 ruas itu tidak selesai. Politik anggaran.

Selama belasan bahkan puluhan tahun, plot anggaran pembangunan proyek besar itu selalu dilakukan tahunan atau tunggal.

Hal yang membuat pembangunan tak pernah tuntas.

Namun apa kemudian mimpi itu kandas seiring mandeknya pembangunan? Tidak.

Gubernur Aceh Nova Iriansyah masih mencoba merajut mimpi 30 tahun itu.

Terserah apa namanya.

Yang jelas Gubernur Nova dengan dukungan anggaran dari seluruh mitra kerja di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh setuju melanjutkan pembangunan 14 ruas jalan itu dengan skema tahun jamak atau kontrak multiyears.

Tujuannya mulia. Tidak ada alasan lagi jalan itu tak dibangun tuntas.

Kebijakan dan anggaran telah diberikan penuh.

Kali ini, gubernur bersama seluruh dewan telah berikhtiar jalan itu tuntas.

Masyarakat telah terlalu lama menunggu.

Perekonomian masyarakat harus diungkit dengan dukungan pembangunan infrastruktur dari pemerintah.

Bukannya tanpa rintangan. Protes bermunculan.

Namun bukankah setiap kebijakan pembangunan yang dilakukan pemerintah telah melewati berbagai uji dan pertimbangan?

Masyarakat tetap yang utama. Mereka adalah yang punya kawasan. Mereka paling mengerti akan kebutuhan.

Untuk menjaring aspirasi itu, gubernur berkeliling Aceh.

Satu-dua masyarakat ditanya pendapat.

Para bupati dan wali kota ikut memberi alasan.

Lantas ditemui kesimpulan dari jawaban para masyarakat.

Semua kompak menjawab: jalan itu adalah kebutuhan utama. Adanya jalan jadi pembuka bagi masuknya berbagai akses ekonomi ke semua sendi, ke semua lapisan masyarakat.

Usai mendapat dukungan bupati dan wali kota serta DPRA--tentunya dukungan jutaan masyarakat Aceh--, jalan itu kemudian dibangun.

Dimulai dengan peletakan batu pertama pembangunan jalan Sinabang dan Bendungan Sigulai di Simeulue pada Selasa awal Februari lalu.

Berlanjut je Aceh Barat Daya yaitu jalan Babahrot batas Gayo Lues dan Jalan Trumon – Beuloh Seuma di Kabupaten Aceh Selatan.

Baru-baru ini Gubernur juga meninjau pembangunan jalan tembus Jantho-Lamno.

Kebijakan Gubernur sedikitpun tidak gegabah. Semua ide dan saran ditampung.

Kekhawatiran para aktivis lingkungan pun ikut dirasa.

Karenanya Gubernur tak lupa dan terus secara berulang mengingatkan rekanan pelaksana proyek selalu taat dan mematuhi aturan yang berlaku, serta tetap berpedoman pada rekomendasi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang telah diterbitkan oleh lembaga terkait.

Bagi gubernur, pengerjaan pembangunan jalan tersebut sangat penting, bukan sebatas membuka keterisoliran, namun juga harus mendidik masyarakat dan pekerja proyek tentunya, untuk selalu taat kepada aturan.

Saat seluruh wilayah Aceh mulai tersambung, dan beberapa proyek strategis pemerintah pusat seperti tol dan beberapa bendungan di Aceh selesai, ekonomi Aceh insya Allah akan bergeliat tinggi.

Masyarakat akan semakin sejahtera, pembangunan akan semakin merata.

Yang pasti gubernur Nova punya target. Mimpi para pendahulu itu harus terajut tuntas di masa kepemimpinan dirinya.

Di akhir 2022 nanti, seluruh Aceh harus sudah tersambung. Seperti kata R Suharjo, Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia....
*) PENULIS, Muhammad Iswanto SSTP MM adalah Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh.

Sumber : https://aceh.tribunnews.com/2021/03/29/jejak-langkah-nova-merajut-mimpi-pendahulu












 















Author


Avatar

dpmptsp Aceh

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Aceh