aceh, pranala luar

Nestapa Petani Sawit di Subulussalam Harga TBS Naik Tapi Produksi Menurun, Ini Penyebabnya

Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Kota Subulussalam dalam sebulan terakhir mulai menunjukan kenaikan bahkan terkini mencapai Rp. 1.230 di tingkat pabrik.

Selain TBS, Crude Palm Oil atau minyak mentah CPO juga mengalami kenaikan. Terkini, Tender CPO KPBN, Tgl.06-07-2020 : Excld PPN Franco PT SAN Belawan & Franco Pabrik Pembeli Sekitar Dumai Rp.7665-MM, iBP.

Sayangnya,  kenaikan tersebut tampaknya belum mampu mendongkrak ekonomi petani di tengah pandemic virus corona atau covid-19 lantaran saat ini terjadi penurunan produksi panen.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit  Indonesia (Apkasindo) Kota Subulussalam Subangun Berutu kepada Serambinews.com, Senin (6/7/2020) mengakui jika harga TBS di daerah itu terus mengalami kenaikan.

Di sisi lain, kata Subangun produksi atau hasil panen kebun petani justru mengalami penurunan.

Alhasil, petani tetap belum mampu menikmati harga tinggi lantaran produksi mereka menurun sehingga pendapatan tidak juga bergerak. ”Harga memang naik tapi produksi turun, hasil panen anjlok. Ini karena beberapa faktor mulai cuaca hingga perawatan,” ujar Subangun Saat ini, kata Subangun ada penurunan produksi, dikarenakan faktor cuaca, kurang hujan menyebabkan proses masaknya TBS dipohon melambat.

Masalah faktor cuaca menurut Subangun  diperkirakan BMKG sampai September mendatang.

Faktor cuaca ini, kata Subangun sangat berdampak pada produksi TBS. Dikatakan, jika sebelumnya hasil produksi sebanyak  1.500 kilogram per dua minggu saat ini hanya 1.100 kilogram atau turun berkisar 30% dari biasa.

Dikatakan, dalam dunia perkebunan kelapa sawit juga ada masa buah melimpah dan trek.


Trek merupakan musim dimana tanaman sawit tidak berproduksi maksimal. Kondisi tersebut diakibatkan, kondisi iklim terutama cuaca yang tidak menentu.

Saat memasuki masa pembungaan buah sawit pasokan air hujan kurang maksimal. Meski telah dilakukan pemupukan, hasil TBS atau brondolan menurun. Nah, sesuai hasil penelitian masa trek terjadi dalam kurun waktu Oktober-Maret.

Masa itu merupakan proses pembungaan dan terjadi tren trek hingga produksi menurun.

Kondisi ini, kata Subangun diperparah oleh tidak terawatnya kebun petani akibat harga yang sejak dua tahun terakhir anjlok.

”Dunia sawit ada musim buah dan tren trek. Ini memang terjadi tiap akhir tahun hingga Maret.

Tapi masalah ini semakin diperparah oleh harga yang kemarin anjlok sehingga kebun petani tidak terawat seperti pemupukan yang menjadi hal wajib bagi tanaman sawit,” terang Subangun

Lebih jauh dikatakan, imbas trek yang diakibatkan oleh perubahan cuaca sangat terasa pengaruhnya. Produksi tandan buah segar serta harga yang juga menurun, membuat penghasilan pekebun sawit berkuran.

Diterangkan juga bila harga TBS sawit rendah pasti berdampak luar biasa bagi petani.

Saat musim trek yang menjadi masa paceklik di dunia petani kelapa sawit.

Kondisi ini memaksa petani untuk melakukan perawatan kebun semampunya, bahkan ada yang mulai tidak melakukan pemupukan, lantaran ketiadaan dana untuk membelinya.
Ini, tambah Subangun, belum memperhitungkan biaya operasional  lain untuk perawatan serta kebutuhan keluarga. Dengan demikian harga Rp 1.600 pun menurut Subangun pada dasarnya masih belum menguntungkan petani.

Meski demikian, pekebun di Kota Subulussalam hingga kini masih menjadikan tanaman tersebut sebagai tumpuan untuk penghasilan rutin setiap dua pekan sekali.

Sebab, komoditas kelapa sawit sudah menjadi tanaman paling banyak dilakoni para petani termasuk para pemodal di Kota Sada Kata itu.

Lalu, kala produksi atau panen kelapa sawit melimpah di atas Maret-September di saat itu pula terjadi penurunan harga. Sering kali terjadi penurunan harga di tengah melimpahnya hasil panen TBS kelapa sawit.

Hal yang paling lazim terjadi terutama menjelang lebaran Idul Fitri atau Idul Adha hingga menjelang Agustus.

”Jadi memang menjadi dilemma bagi petani, harga naik hasil panen petani menurun. Pas produksi melimpah harga di masa itu sering pula harga anjlok,” pungkas Subangun yang akrab disapa Akeng

Sebagaimana diberitakan harga TBS mulai mengalami kenaikan antara Rp 20-Rp 40 per kilogram.  Subangun menjelaskan jika terkini, di level petani harga TBS Kelapa Sawit sudah mencapai Rp 1.230 per kilogram.


Menurut Ketua Apkasindo Subangun ada perkembangan  harga sawit  mulai naik walaupun tidak begitu drastis. Namun kenaikan ini kata Subangun menjadi harapan bagi para petani di sana di tengah sulitnya ekonomi dalam situasi pandemic covid-19.

Subangun menejelaskan berdasarkan pantauan pihaknya di empat Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS)  yang beroperasi di Kota Subulussalam terus mengalami kenaikan harga TBS.

Keempat pabrik kelapa sawit  tersebut adalah PT Bangun Sempurna Lestari (BSL) Pelayangan, Desa Buluh Dori, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam. PMKS PT Samudera Sawit Nabati (SSN) di Desa Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat.

Lalu PMKS PT Global Sawit Semesta (GSS) di kawasan Lae Kombih, Desa Gambir, Kecamatan Penanggalan serta PMKS PT Budi Daya Agrotamas (BDA) di Longkib, Kecamatan Longkib.

“Semua pabrik ini menaikan harga TBS  sebesar Rp 20 per kilogram. “Semua naik Rp 20-Rp40 per kilogram,” ujar Subangun

Secara rinci disebutkan, di PMK PT SSN harga TBS menjadi Rp 1.185 per kilogram atau naik sebesar Rp 20 per kilogram, di PMKS PT BSL harga TBS menjadi Rp 1.245 per kilogram atau naik Rp 25 per kilogram.

Kemudian di PMKS PT BDA harga TBS menjadi Rp 1.180 per kilogram atau naik Rp 20 per kilogram. Selanjutnya  di PMKS PT GSS harga TBS mencapai Rp 1.290 per kilogram atau naik Rp 40 per kilogram.

Meski belum menguntungkan petani namun kenaikan ini diharapkan terus berjalan. Sebab, menurut petani harga TBS akan dapat membantu petani jika harganya mencapai Rp 1.600 perkilogram di level petani bukan pabrik.

Sebab, dengan harga sedemikian sekarang, petani hanya mendapatkan hasil yang tidak setimpal dengan biaya perawatan.

Petani, lanjut  Subangun memang mulai bernapas lega dan berharap dengan perlahan harga TBS kelapa sawit tersebut terus meningkat hingga di atas Rp 1.600 per kilogram.

Hal ini karena berdasarkan rumus, harga TBS yang  layak dan dianggap berada pada titik aman jika mencapai Rp 1.600 atau lebih per kilogram di level petani atau bahkan lebih.

Karenanya, Subangun meminta pihak pabrik tidak sekadar menurunkan harga sesuka hati tanpa memperhatikan nasib petani di daerah itu.

Subangun berharap dengan pemberlakuan system new normal di Indonesia harga TBS kembali menggembirakan. Apalagi, lanjut Subangun di Subulussalam merupakan zona hijau dan komoditi kelapa sawit sebenarnya justru dibutuhkan untuk penanganan corona.  (*)


Sumber : https://aceh.tribunnews.com/2020/07/07/nestapa-petani-sawit-di-subulussalam-harga-tbs-naik-tapi-produksi-menurun-ini-penyebabnya












Author


Avatar

dpmptsp Aceh

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Aceh