aceh, pranala luar

Pro Kontra soal Kalung Antivirus Kementan, Berikut Analisis Guru Besar Farmasi UGM…

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada ( UGM) Prof Dr Suwijiyo Pramono turut mengomentari produk kalung eucalyptus sebagai antivirus corona. Menurut Suwijiyo, kalung tersebut belum bisa diklaim sebagai antivirus Covid-19. "Kalau disebut sebagai obat antivirus Covid-19 belum bisa.

Masih diperlukan pembuktian dengan proses yang panjang hingga pengujian klinis atau pada manusia," kata Suwijiyo kepada Kompas.com, Rabu (8/7/2020). Selain itu, Suwijiyo melanjutkan, produk kalung eucalyptus tersebut juga harus memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 

Bisa berakibat bahaya Suwijiyo mengungkapkan, eucalyptus yang digunakan per oral untuk obat, tidak direkomendasikan karena jika dosis penggunaan tidak tepat akan berbahaya. "Batas aman penggunaan eucalyptus per oral berkisar antara 0,3-0,6 milililter.

Penggunaan berlebih akan menyebabkan iritasi pada lambung dan meracuni susunan syaraf pusat yang dapat berakibat kematian," lanjut dia. Di satu sisi, menurut Suwijiyo eucalyptus mengandung sejumlah zat aktif yang bermanfaat bagi tubuh. Dalam eucalyptus mengandung minyak atsiri yang di dalamnya terdapat senyawa 1,8 sineol yang bersifat antibakteri, antivirus, dan ekspektoran untuk mengencerkan dahak.

Tenaga ahli BPOM ini juga menjelaskan, pernah ada penelitian eucalyptus pada virus influenza dan virus corona. Hasilnya, menunjukkan mampu untuk membunuh virus flu dan corona.
Hasilnya, menunjukkan mampu untuk membunuh virus flu dan corona. " Virus corona SARS-CoV-2 ini kan baru, dalam uji Kementan kemarin menggunakan virus itu atau bukan? Misal pun sudah, kembali lagi kalau uji baru di tahap invitro, baru sebatas itu," ungkap Suwijiyo. "Zat aktif eucalyptus yang terhirup relatif kecil. Walaupun bisa mematikan virus, tapi tidak signifikan," imbuhnya. Oleh karenanya, kata Suwijiyo, perlu dilakukan uji klinik untuk mengetahui seberapa besar kandungan dan manfaat eucalyptus tersebut.

Bukan sebagai obat dalam Eucalyptus selama ini digunakan secara inhalasi, bukan untuk digunakan per oral atau sebagai obat dalam. Pemakaian eucalyptus umumnya dioleskan atau dihirup seperti pada produk minyak kayu putih, balsem, roll on dan lainnya.

Lebih lanjut, penggunaan eucalyptus dalam bentuk kalung untuk alat kesehatan menurutnya memang bisa saja berpotensi membantu proses penyembuhan pasien Covid-19. "Zat aktif pada eucalyptus dapat dihirup dan membantu melegakan pernafasan pada pasien yang mengalami gejala sesak nafas. Tapi, jika dalam bentuk kalung harus diuji secara klinis," terang Suwijiyo. "Kalau bentuk sediaannya minyak akan cukup dosisnya untuk dihirup sehingga minimal bisa melegakan nafas dan mengencerkan dahak," sambungnya.

Dalam hal tersebut, Suwijiyo melanjutkan, dapat membantu obat standar yang diberikan kepada pasien Covid-19 dalam proses penyembuhan, bukan sebagai obat utama Covid-19.

Sumber :
https://www.kompas.com/tren/read/2020/07/08/101300265/pro-kontra-soal-kalung-antivirus-kementan-berikut-analisis-guru-besar?page=all#page2

Author


Avatar

dpmptsp Aceh

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Aceh