aceh, News, pranala luar

Terdampar Setelah Tujuh Bulan di Laut

Raut kelelahan terlihat jelas di wajah ratusan imigran Rohingya yang terdampar di Pantai Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Senin (7/9/2020) sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Sebagiannya bahkan hanya bisa terbaring lemas. 
Informasi sementara yang diperoleh Serambi dari pihak Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi, United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), para imigran tersebut telah tujuh bulan terombang-ambing di lautan sebelum akhirnya mencapai daratan Aceh.

Konflik berdemensi agama yang terjadi di negaranya, Myanmar, memaksa etnis muslim Rohingya bermigrasi membelah lautan menggunakan kapal kayu sederhana tanpa jelas arah dan tujuan. Ini merupakan yang kedua kalinya di tahun ini mereka terdampar di Aceh. Sebelumnya, pada Juni lalu ada sekitar 99 imigran Rohingya yang terdampar di perairan Aceh Utara.
Informasi yang berhasil dihimpun Serambi, kapal pengangkut imigran tersebut awalnya terdeteksi warga saat masih berada sekitar 1 mil dari bibir pantai. Kapal terus bergerak mendekat dan akhirnya merapat ke pantai. Beberapa orang terlihat melompar dari atas kapal. Warga pun mulai berdatangan, membantu menurunkan penumpang kapal.
Mereka kemudian dikumpulkan di sebuah pondok dekat pantai. Kabar terdamparnya para imigran tersebut tersiar cepat, sehingga warga setempat ramai berdatangan sembari membawa bantuan berupa roti dan air minum.
Polisi kemudian memasang police line di sekitar lokasi dan selanjutnya bersama warga melakukan pendataan. Dari hasil pendataan, diketahui total jumlah imigran yang terdampar mencapai 296 orang. Terdiri dari pria dewasa sebanyak 100 orang, anak-anak 14 orang, dan wanita dewasa 181 orang.
Mereka diistirahatkan di pondok tersebut hingga pagi. Di lokasi juga terlihat Dandrem 011/LW, Dandim Aceh Utara, Sekda Kota Lhokseumawe beserta unsur Forkompimda lainnya. Saat itu belum ada informasi akan direlokasi kemana para imigran itu, namun Pemko Lhokseumawe dikabarkan tengah menggelar rapat membahas masalah tersebut.
Baru pada siangnya diputuskan para imigran dipindahkan ke gedung Balai Latihan Kerja (BLK) kawasan Kandang, Lhokseumawe, bergabung bersama para imigran Rohingya yang tiba sebelumnya. Mereka dipindahkan dengan menggunakan kendaraan aparat keamanan.
Begitu tiba di BLK, mereka kembali didata dan selanjut dilakukan rapid test untuk mendeteksi ada tidaknya infeksi Covid-19. Pemeriksaan cepat itu dilakukan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) bersama Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Kesrem Lhokseumawe.

"Mungkin besok baru ada hasil rapid test untuk semua pengungsi Rohingya," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe, dr Said Alam Zulfikar, ketika ditanyai Serambi.
Data identitas
Sementara itu, pihak UNHCR mengaku sangat berterima kasih sekali kepada Pemko Lhokseumawe yang telah bersedia memberikan tempat dan makanan kepada para imigran tersebut. 

“Bagaimanapun, pihak UNHCR sangat berterima kasih karena Pemko Lhokseumawe bersedia memberikan tempat dan makanan buat mereka. Apalagi melihat kondisi mereka saat ini sangat lemah,” ujar Staf Protection Associate UNHCR, Oktina Hafanti.
Pihaknya mengaku akan terus berkoordinasi dengan Pemko terkait penanganan ratusan imigran itu. Untuk sementara ini lanjut dia, para imigran akan direlokasi ke BLK, tetapi tidak digabungkan dengan 99 imigran yang tiba sebelumnya.
“Kami minta mereka semua direlokasi ke BLK sesuai dengan prosedur Covid-19. Kalau soal kapasitas BLK mencukupi atau tidak, saat ini sedang didiskusikan. Bagaimanapun, keputusan tergantung dari Pemko Lhokseumawe,” jelasnya.
UNHCR dikatakan Okta, saat ini akan mendata identitas seluruh imigran, termasuk mencari tahu kemana sebenarnya tujuan kedatangan mereka. Namun informasi sementara yang mereka terima, para imigran itu sudah tujuh bulan terombang-ambing di laut.
“Kami juga akan menggali lagi informasi, mereka terdampar karena boat rusak atau (karena penyebab) lainnya, kita masih berkoordinasi dengan Lanal,” demikian Oktina Hafanti.
Dari ratusan imigran Rohingya yang terdampar di Pantai Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Senin (7/9/2020) sekitar pukul 01.00 WIB dini hari itu, ternyata ada dua orang yang sempat berupaya melarikan diri.
Informasi yang diperoleh Serambi, setelah melompat dari kapal di pinggir pantai Ujong Blang, kedua pria imigran Rohingnya itu langsung kabur ke arah jembatan Los Kala. Namun petugas TNI-Polri dan relawan ERPA langsung melakukan pengejaran.

Dari keterangan masyarakat kepada aparat, diketahui mereka berdua lari ke arah Paloh, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Baru sekitar tiga jam kemudian atau sekitar pukul 04.00 WIB aparat berhasil menangkap keduanya di Gampong Paloh, dan kemudian dikumpulkan kembali bersama ratusan imigran lainnya.
Selain itu, juga ada satu imigran yang terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia Aceh Utara di Kota Lhokseumawe. Pria dewasa yang diperkirakan berusia sekitar 17 tahun itu mengeluhkan sakit di dada.
"Keluhannya sesak di dada. Jadi setelah kita cek, kita evakuasi ke RS terdekat bersama satu rekannya yang mendampingi," kata Kepala Markas PMI Kota Lhokseumawe, M Waly, Senin (7/9/2020).

Belum diperoleh informasi bagaimana kondisi kesehatan imigran tersebut. Namun informasi lain yang diperoleh Serambi tadi malam, dilaporkan ada satu orang lagi yang juga dilarikan ke rumah sakit. Tetapi kabar itu belum terkonfirmasi, dan belum diketahui apakah imigran tersebut laki-laki atau perempuan.

Sumber :
https://aceh.tribunnews.com/2020/09/08/terdampar-setelah-tujuh-bulan-di-laut?page=all

Author


Avatar

dpmptsp Aceh

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Aceh